Dian Ayu Puspitasari

Just another WordPress.com site

MUSUH DALAM CERMIN

pada Desember 7, 2012

Image

            Suatu saat pemusuh sedang murung. bagaimana tidak? Hidupnya dibawa rumit, rejekinya ikut menjadi sulit, hatinya pun jadi sempit. Baginya dunia ini terasa menghimpit sehingga senyum menjadi sulit. Begitulah pemusuh, merasa tak punya teman. Bagaimana bisa punya teman jika semua orang diajak saingan, jika masalah kecil diselesaikan dalam perkelahian sehingga lingkungan pun terasa mengucilkan dan akhirnya batinnya pun perlahan merasa tertekan.

            Pemusuh berkata “apa salahku?mengapa aku?”. Ia merasa batin dan logikanya bergejolak, hati nuraninya berteriak, dirinya pun tak bisa mengelak bahwa dirinya adalah orang galak. Saat ini temannya hanyalah setan yang sedang bersorak. Kemudian ia mencoba tuk berbenah, selama ini ia sadar bahwa dirinya telah salah, temannya hilang tergantikan musuh yang berlimpah. Sesaat ia menangis, hatinya sangat miris saat tersadar bahwa lingkungan ini memandangnya sinis. Dengan tangisnya yang terjatuh, ia menatap sebuah cermin dan berkata “musuhku? sifatku”.

 

            Musuh dalam cermin menggambarkan orang yang banyak musuh seringkali merasa bahwa ia menjadi korban atas kesalahan orang lain. Ia merasa bahwa lingkunganlah yang berbuat tidak adil kepadanya. Padahal sebenarnya orang inilah yang sering melakukan kesalahan dan berbuat tidak adil kepada lingkungannya. Ia tidak ingin introspeksi diri dan menyalahkan orang lain atas penderitaan yang ia rasakan. Namun ketika banyak permasalahan yang menimpanya dan tidak ada satu pun teman didekatnya, hatinya pun tergerak barulah ia merasa ada sesuatu yang salah dalam dirinya. Cermin di dalam cerita ini merupakan gambaran bahwa ia akhirnya ingin introspeksi diri dan mencoba untuk bermusuhan dengan sifat yang membuatnya dimusuhi.

            Dari cerita di atas, intinya adalah terkadang ketika kita merasa lingkungan tidak adil pada diri kita, itu adalah sebuah pertanda bahwa ada yang salah dengan cara kita bersikap. Sehingga ketika perasaan yang tidak menyenangkan itu datang hendaknya introspeksi diri terlebih dahulu baru setelah itu cobalah untuk memahami sekitar kita. Bersabarlah dalam proses menjalaninya J

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: