Dian Ayu Puspitasari

Just another WordPress.com site

HARAPAN DARI SEBUAH SKRIPSI

muslimah-berdoa

 

Mungkin berdoa bukanlah jalan terbaik untuk segala permasalahan. Namun, tidak dipungkiri dengan doa kita mendapatkan ketenangan hati, semangat diri dan keridhoan dari sang Ilahi untuk menyelesaikan segala permasalahan yang kita hadapi.

 

 

Mendengar kata harapan yang terpikirkan oleh saya adalah skripsi. Bagi saya saat ini, menyelesaikan skripsi adalah sebuah harapan. Harapan yang akan berlanjut mengenai semoga cepat sidang skripsi dan harapan wisuda tepat waktu gelombang pertama. Aamiin.
Seperti saya saat ini, mahasiswa harus memiliki harapan untuk bahan bakar menjalani kehidupan kampusnya. Begitu pula hidup yang sesungguhnya, banyak sekali dihiasi harapan. Namun terkadang harapan disama-artikan dengan angan. Mungkin bagi banyak orang itu sama saja tetapi tidak untuk saya. Saya mengartikan harapan adalah keinginan yang terdapat usaha di dalamnya untuk mewujudkan. Dan angan adalah keinginan yang hanya sampai pada pikiran dan tidak terdapat usaha untuk mewujudkannya.
Cerita tentang perjalanan skripsi saya adalah cerita yang sering saya ceritakan kepada adik – adik angakatan saya yang tercinta secara berulang – ulang. Karena menurut saya, dari cerita tersebut telihat hubungan antara seorang hamba yang penuh harapan, masalah yang membelenggu dan peran Yang Maha Kuasa untuk mewujudkan harapan itu.
Dimulai dari pemilihan judul skripsi yang terus ditolak oleh dosen pembimbing dan saya tetap berusaha untuk mencari sampai benar – benar pasrah dan saya memohon pada Allah SWT untuk memberikan saya judul. Lucu memang, tapi memang itulah yang terjadi. Dan pada saat itu saya menyadari bahwa pertolongan Allah sangatlah konkrit. Karena setelah berkutat dengan judul yang ditolak akhirnya saya menemukan kenyataan bahwa teman saya diajak oleh seorang dosen untuk mengerjakan penelitian beliau. Sehingga judul teman saya tersebut diberikan pada saya lengkap dengan bab 1 dan jurnal – jurnal pendukung disertai dengan persetujuan dosen pembimbing 1 dan 2. Konkrit bukan?
Kedua, dalam perjalanan menuju bab yang lain saya tersendat oleh teori dan metode penelitian skripsi saya tersebut. Banyak anak kimia saat itu yang saya datangi tetapi tidak mengerti dengan apa yang saya tanyakan. Sampai pada suatu saat saya sedang mengunjungi teman saya di fakultas lain dan mendapati beliau bertemu dengan teman lamanya yang ternyata pernah ingin meneliti apa yang saya teliti. Dan pertanyaan – pertanyaan yang saya ajukan terjawab. Konkrit banget!
Ketiga, sebelum seminar proposal skripsi saya diusulkan oleh salah satu dosen untuk trial atau tahap percobaan, padahal bahan yang saya teliti harganya cukup mahal yaitu sekitar kurang lebih 1 juta untuk 10 gram. Belum segala macam hal yang harus saya persiapkan untuk penelitian tersebut yang kira – kira mencapai 2 jutaan hanya untuk sebuah trial. Akhirnya saya bertanya pada teman yang telah diceritakan sebelumnya mengenai bahan X yang harganya lebih murah. Dan ternyata beliau memberitahukan bahwa di universitas P ada dosen yang menjual bahan X dengan harga yang sangat murah. Namun ketika ditanya contact person beliau tidak tahu menahu sama sekali. Alhasil saya menghubungi teman saya yang berada di universitas P dengan maksud minta tolong untuk dicarikan bahan X. Teman saya ini adalah orang yang sangat sibuk, namun di tengah kesibukannya beliau mau menolong saya mencarikan bahan tersebut sampai dapat. Tidak hanya sekedar dapat melainkan gratis. Gratis karena dosen yang menjual sangatlah baik. Konkrit kan? Kalau bukan karena pertolongan Allah, saya yakin semua itu tidak akan terjadi. Dan semoga Allah memberikan balasan yang sebaik – baiknya untuk orang – orang yang senantiasa memberikan bantuan pada saya. Aamiin
Sebenarnya masih banyak hal dan bukti yang ingin saya ceritakan. Namun sekiranya dari pengalaman – pengalaman saya di atas mampu membangkitkan semangat dan harapan teman teman. Semoga teman teman percaya bahwa ketika kita mempunyai harapan dan kita bekerja keras untuk itu ditambah dengan menggantungkan harapan dan usaha kita hanya pada Allah maka hal yang ajaib bisa terjadi.

Iklan
Tinggalkan komentar »

PUTUS ASA = SOMBONG, KOK BISA??

Sepintas membaca judul ini kalian pasti bingung, kok bisa sih putus asa disamakan dengan sombong? Jangan bingung dulu, karena setelah membaca cerita ini kalian pasti mengerti kenapa saya bisa bilang bahwa putus asa itu sama dengan sombong. Lets check it out!!!

Alkisah, ada mahasiswa semester VII di sebuah universitas X yang bernama Karin. Karin ini sedang bingung mengenai penelitian yang dirasa sulit untuk di kerjakan. Bukan hanya ia yang merasa bahwa penelitiannya sulit, tetapi dosen pembimbing yang menemaninya saat penelitianpun berkata bahwa penilitiannya memang sulit dan mustahil untuk dilakukan sehingga dosen pembimbingnya pun menyuruh ia untuk melihat kembali jurnal yang ia gunakan sebagai acuan utama. Karin pun akhirnya memutuskan untuk membaca ulang jurnal tersebut dan alhasil ia tidak menemukan kesalahan pada metode penelitian yang ada di jurnal tersebut. Apa sih yang membuat Karin bingung? Sebenarnya, Karin ingin meneliti tentang pengaruh bahan A jika ditambahkan pada bahan B. Tidak ada yang salah dengan apa yang ingin dia teliti kan? Tapi apa masalahnya? Pertama, Karin harus menambahkan 0,00008 gram bahan A ke dalam 1 gram bahan B. Kedua, ia tidak menemukan timbangan 5 digit dibelakang koma. Ketiga, mustahil 0,00008 gram itu bisa dicampurkan pada bahan B dengan homogen dikarenakan terlalu sedikitnya bahan A. Kita lanjutkan ceritanya, jadi setelah membaca ulang, ia memutuskan untuk mencari timbangan 5 digit dibelakang koma ke salah satu laboratorim yang ada di kampusnya, ternyata di laboratorium itu hanya ada timbangan 4 digit dibelakang koma. Dengan hati sedih dan bingung ia kembali ke fakultasnya, selama berhari hari otaknya benar benar membuatnya pusing. Bagaimana tidak? Yang ada di otaknya hanyalah “ga mungkin penelitian ini jalan, sepertinya harus ganti judul. Kalau ganti judul, bisa bisa ga lulus tepat waktu”. Coba bayangkan berhari hari yang ada di otaknya Cuma itu itu saja karena itu ia menjadi putus asa. Setelah itu, ia mencoba menghubungi ibunya di rumah, ia menceritakan kepada ibunya tentang kesulitan yang dialaminya. Di sini, hidayah Allah muncul ketika ia berbincang dengan ibunya. Kira-kira dialognya seperti ini :
K :mah, Karin bingung. Karin uda putus asa sama penelitian ini. maaf ya mah kalo Karin ga bisa lulus tepat waktu.
I :Lho kenapa? Kok gitu?
K :* menceritakan kesulitannya yang ada di atas tadi
I :Kamu kok sombong sih nak?
K :Sombong kenapa sih mah?aku ga ngerti. Aku lho uda usaha dan ga bisa.
I : Kamu tuh sombong karena kamu hanya berfikir bahwa semua yang uda kamu lakukan dan kamu capai selama ini itu karena usahamu sendiri. Padahal apa? Semua itu Allah yang buat kamu mampu mencapainya. Itu semua Allah yang ngatur dan bukan karena usahamu sendiri. Kamu ga boleh bilang kalo kamu ga bisa! Kamu harus tetap punya pikiran positif bahwa kamu bisa dan Allah akan bantu kamu. Makanya, berdoa, solat tahajud, solat dhuha, minta kekuatan, minta bantuan sama Allah untuk dimudahkan penelitiannya. Jangan pernah kamu sombong secara ga sadar kaya gitu lagi.
K :* tertampar sama omongan ibunya dan menangis. Iya mah, mungkin selama ini aku kurang berdoa, doain ya mah semoga bisa
I :Iya nak, mamah selalu doain kamu. Semangat yaa…

Nah dari pembicaraan ini, Karin merasa Allah menegurnya, Allah seolah memberi tahu “mintalah padaKu maka akan Aku kabulkan permintaanmu. Jangan menyerah. Dengan Kun Fayakun Ku semua akan beres”. Begitulah cara Allah menegur Karin, lewat ibunya. Setelah pembicaraan itu, Karin mencoba menambahkan waktunya untuk selalu berdoa dengan khusyuk. Beberapa hari kemudian, Karin mencoba menata hati untuk menemui dosbingnya untuk konsultasi mengenai penelitiannya, ia menyampaikan maksudnya untuk merubah metode penelitiannya yang sebenarnya tidak merujuk pada jurnal tersebut. Dengan izin Allah, dosbingnya menyetujui, dan selesailah satu masalah. Sesaat setelah itu, ia menuju laboratorium yang pernah didatanginya itu untuk meminjam timbangan 4 digit dibelakang koma, ini dikarenakan ia akan mengalikan jumlah bahan A sehingga dapat mencapai 4 digit dibelakang koma dan satu lagi masalah selesai. Kemudian setelah timbangan berhasil dipinjam akhirnya ia pun mencoba membuat sampel penelitian dan akhirnya bisa menghasilkan sampel yang homogen pada proses pencampurannya. Singkat cerita, setelah itu ia menguji bahan sampel itu dan didapatkan hasil sesuai dengan hipotesis penelitiannya tersebut. Maha Kuasa Allah atas segala sesuatu. Bayangkan saja, penelitian yang ia kira tidak mungkin selesai bisa selesai dalam waktu 2 hari. Subhanallah

Apa sih yang bisa dipetik dari pelajaran ini?
1. Sebagai manusia kita tidak boleh putus asa
2. Dibalik setiap usaha kita, pasti ada Allah yang membantu mewujudkannya.
3. Sikap putus asa dan memikirkan hal buruk untuk diri sendiri itu termasuk sombong karena seolah olah kita hanya mempercayai bahwa semua yang kita dapatkan hanya bersumber pada usaha kita sendiri. Padahal semua itu, ada Allah yang memampukan kita.
4. So, jangan putus asa. Jangan hanya berkeluh kesah dan memikirkan segala kemungkinan buruk yang nantinya akan merusak semangat kita. Tidak ada gunanya mengeluh dan menangis karena tidak akan menyelesaikan masalah. Mintalah kekuatan pada Allah, Ia berjanji “ barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap – tiap sesuatu ” (Q.S ath Thalaaq ; 2-3)

jangan menyerah

1 Komentar »

stop comparing :)

Karena kita beda, berhentilah membandingkan.

 

 “berhentilah dari kebiasaan membandingkan. Kita mungkin membuang banyak waktu dan energi dengan berharap menjadi orang lain dan berada di situasi lain. Keadaan ini hanya akan menghalangi sikap syukur kita”

 

Apa maknanya?

Tidak dipungkiri salah satu sifat manusia adalah suka membandingkan. Apa yang dibandingkan? Terkadang, secara langsung maupun tidak langsung kita suka membandingkan kekurangan dan kelebihan diri sendiri dengan orang lain yang  dianggap sebagai sosok  ideal. Padahal, tiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan yang berbeda. Bisa kita bayangkan jika tiap orang itu sama maka hidup akan sangat membosankan dan tidak akan mencapai keseimbangan.

 

Apa salahnya dengan membandingkan?

Tidak ada salahnya dengan sikap membandingkan, terkadang sikap seperti itu membuat diri kita bersemangat untuk menjadi seseorang yang lebih hebat dari sosok ideal itu. Tetapi tidak sedikit orang malah menjadi pesimis dan merasa tidak percaya diri dalam proses membandingkan ini.

 

Kenapa begitu?

Etiologi atau penyebabnya ialah sifat suka membanding – bandingkan merupakan sebuah tanda dari rasa percaya diri yang kurang. Orang yang membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain, berada dalam kondisi ketakutan. Dia takut pada sosok ideal yang dirasa memiliki level yang lebih tinggi tersebut. Karena percaya bahwa mereka tidak akan pernah mampu mencapai level kemampuan dari sosok ideal mereka. Hingga kadang membuat semangat menjadi turun, pesismis dan tidak percaya diri.

 

Bagaimana cara untuk menghentikannya?

1. cobalah untuk menerima diri sendiri

Cobalahlah untuk menghargai diri sendiri dan mempelajari apa kelebihan dan kekurangan kita, sehingga kita bisa merasakan bawa kita dengan orang lain pasti sama, ada kelebihan ada juga kekurangan. Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki.

 

2. jangan minder

yakinlah bahwa pada saat yang sama, detik yang sama berjuta – juta orang di dunia ini justru mendambakan untuk menjadi kita.

 

3. jadilah pribadi yang berbeda

Ada perkataan “yang beda emang lebih asik”. Setiap kita ini beda dan unik karena memiliki ciri khas dan karakter yang berbeda. Beda inilah yang nantinya akan saling melengkapi dalam tatanan kehidupan kita. Jadi pede aja lagi, jadi diri sendiri memang lebih asik.

 

4. stop comparing

Jangan membandingkan, karena kita ini memang berbeda. Jalan sukses kita beda. Apa yang kita suka beda dan apa yang menjadi parameter kita juga beda. Beda itu asyik ketika kita menerima dan bersyukur kepadaNYA. Perbedaan membuat hidup jadi berwarna,tidak monoton. Ada saling membutuhkan di sana. Langit tidak akan bernama langit kalau tidak ada bumi. Lautan tidak akan bernama demikian, jika tidak ada daratan. Panas membutuhkan hujan agar tidak kering, hujan butuh panas agar tidak banjir. Itulah perbedaan

Tinggalkan komentar »

Pacaran = Narkoba

kalo misalnya pacaran itu kita ibaratkan kaya narkoba…
tentu, orang2 yang belum pernah terjerumus ke dalamnya akan dengan mudah untuk menjauhinya..walaupun memang ada keinginan namun tetap saja mereka akan lebih mudah untuk menjauhkan diri dari jeratnya..sedangkan bagi yang pernah merasakannya akan terkena efek yang membuat mereka merasa ingin dan ingin (dibaca : kecanduan). bahkan susah sekali rasanya terlepas dari keinginan untuk mengkonsumsinya..
namun..disaat penderita memiliki keinginan kuat untuk sembuh dan berubah…keinginan itu akan menjadi semangat yang mampu membantu mereka untuk menghadapi semua cobaan yang ada..dan akhirnya mereka akan puas ketika mendapati diri mereka sudah sembuh dan mampu melewati banyak cobaan itu..
sama halnya dengan pacaran…bagi orang yang belum pernah merasakannya…untuk menjauhinya itu mudah…dan so pasti mereka bisa dibilang “masih suci”..namun jangan patah semangat kawan mendengar kata2 “masih suci” tersebut…memang di satu sisi kita memiliki kekurangan itu…namun di sisi lain kita juga punya suatu kelebihan yang mereka tidak memilikinya..yaitu “PENGALAMAN” kita tau..bahwa pengalaman itu adalah guru bagi kita…dengan pengalaman kita tahu akan artinya kesalahan…dengan pengalaman kita tahu tentang artinya berjuang dengan sungguh2…dengan pengalaman…kita memiliki semangat untuk terus hidup lebih baik…dengan pengalaman kita bisa merasakan penderitaan orang2 yang saat ini sedang mengalami kecanduan itu…dan insya ALLAH kita bisa memberikan solusi terbaik bagi mereka…
dengan pengalaman itu kita akan menjadi kuat dan tidak mudah putus asa…janganlah belajar dari kesalahan…karena nanti kita akan melakukan kesalahan lagi…
tapi belajarlah memperbaiki kesalahan…karena nanti kita akan menjadi seseorang yang lebih baik..

1 Komentar »